Minggu, 30 Januari 2011

bab 1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun (Wong, 2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi pertumbuhan dan perkembangannya. Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi psikis dan fisik pada anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam perjalanan waktu yang menuju kedewasaan dari lingkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan menuju dewasa. Perkembangan menandai pematangan dari organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Sertas memperoleh ketrampilan dan kemampuan untuk memikul tanggung jawab dan memperoleh kebebasan mengekspresikan kreatifitas. Kreatifitas anak akan bertambah sesuai dengan tahap tumbuh kembang (Soetjiningsih, 1998).
Menurut Hurlock (1999) tugas-tugas perkembangan anak prasekolah usia 4 - 5 tahun adalah mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang umum, membangun sikap yang sehat mengenal diri sendiri serta belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung, dan semua hal yang dapat membantu anak memcapai perkembangan secara optimal. Dari semua tugas perkembangan anak yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa tugas perkembangan yang perlu dikasi kepada anak adalah tugas perkembangan dalam hal kemandirian.
Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul dengan sendirinya, tetapi perlu diajarkan kepada anak. Tanpa diajarkan anak tidak akan tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Beberapa indikator anak dikatakan mandiri adalah anak melakukan apa yang ia yakini benar meskipun orang lain mengkritik atau mengejek bahkan mengancam. Anak mau mengambil resiko dan berusaha keras untuk meraih prestasi, dan anak yang mandiri cenderung memiliki antusiasme dan inisiatif yang tinggi serta mampu mengambil keputusan ketika dihadapkan dengan persoalan ataupun masalah yang agak rumit. Indikator ketidak mandirian anak adalah adanya sikap ketakutan saat anak melakukan kesalahan, sikap dan tingkah lakunya didasarkan pada orang lain, dan anak yang tidak mandiri cenderung cepat putus asa ketika hasil yang dicapai tidak sesuai dengan apa yang diharapkan serta kebutuhan maupun aktifitas sehari-hari cenderung dibantu oleh orang lain (Ma'ruf, 2007).
Menurut Thoha (1996), faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian anak dapat dibedakan menjadi dua, yakni : faktor dari dalam diri anak, antara lain faktor kematangan usia dan jenis kelamin, disamping itu inteligensia anak juga berpengaruh terhadap kemandirian anak. Faktor dari luar yang mempengaruhi kemandirian anak adalah kebudayaan, keluarga, meliputi aktivitas pendidikan dalam keluarga, cara memberikan penilaian kepada anak, cara hidup orang tua berpengaruh terhadap kemandirian anak serta fungsi keluarga itu sendiri. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemandirian anak adalah fungsi afektif keluarga. Fungsi afektif keluarga adalah fungsi internal keluarga sebagai dasar kekuatan keluarga. Didalamnya terkait dengan saling menyayangi, saling mengasihi, saling mendukung, dan saling menghargai antar anggota keluarga. Fungsi ini dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.
Menurut Syarah (2009) kesalahan keluarga dalam mendidik anak mempengaruhi perkembangan anak. Kesalahan dalam fungsi afektif keluarga akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik. Beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik atau mengajarkan anak diantaranya, orang tua kurang menunjukan ekspresi kasih sayang baik secara verbal maupun fisik, kurang meluangkan waktu untuk anak, orang tua bersikap kasar secara verbal, bersikap kasar secara fisik, orang tua terlalu memaksa anak untuk menguasai kemampuan kognitif secara dini, orang tua tidak menanamkan karakter yang baik pada anak. Hal tersebut membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak mampu melakukan komuniasi dengan keluarganya dengan totalitas menurut kepribadiannya.
Berdasarkan pengumpulan data yang diperoleh jumlah taman kanak-kanak (TK) di Kabupaten Sidoarjo sebanyak 728 TK, yang tersebar di 18 Kecamatan di wilayah Sidoarjo. Dari 18 Kecamatan, jumlah TK terbanyak di Kecamatan Sidoarjo. TK yang ada di Kecamatan Sidoarjo berjumlah 83 TK. Peneliti mengambil sampel untuk dilakukan observasi awal sebanyak 5 % dari 83 TK yaitu 4 TK di wilayah Kecamatan Sidoarjo. Taman kanak-kanak yang dimaksud adalah TK Bina Ana Prasa, TK Batik, TK Sabilussalam, dan TK Siti Fatimah. Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru di 4 TK tersebut disimpulkan bahwa di sekolah mereka rata-rata terdapat 80 anak yang tidak mandiri, ketidak mandirian anak ditunjukkan dengan sikap atau perilaku anak masih ditunggu saat belajar, anak masih dibantu memakai sepatu, makan masih dibantu, dan masih ada anak yang dibantu dalam mengerjakan tugas. Sementara hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti terbukti rata-rata dari ke 4 TK tersebut terdapat anak yang menunjukkan sikap atau perilaku masih ditunggu saat sekolah, masih dibantu dalam menggunakan sepatu, makan masih disuapi, setelah bermain tidak mau merapikan alat bermain, dan masih dibantu dalam mengerjakan tugas. Dari ke 4 TK tersebut, TK Bina Ana Prasa menunjukkan jumlah murid terbanyak yaitu 120 murid dan yang tidak mandiri mencapai 40 % dari semua murid daripada ke 3 TK.
Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan kemandirian anak usia prasekolah diantaranya menghindari orang tua memerintah anak dan membiarkan anak untuk menyoba apa yang dia ingin lakukan (Tampubolon, 2010). Peran perawat dalam hal memandirikan anak usia prasekoalah sebagai berikut: (1) sebagai pendidik (educator) yaitu memberikan pengetahuan dan informasi mengenai pemberian kasisayang berlebihan bisa menyebabkan anak menjadi manja,(2) counselor yaitu memberikan bimbingan dalam hal penyampaian kasih sayang terhadap anak, cara meningkatkan kemandirian anak, dan memberikan kebebasan kepada anak di dalam keluarga untuk kemandirian anak.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi afektif keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tingkat kemandirian anak, oleh karena itu penulis menetapkan permasalahan penelitian dengan judul “hubungan fungsi afektif keluarga dengan tingkat kemandirian anak usia prasekolah”

B. Rumusan masalah
Fungsi afektif keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kemandirian anak. Keluarga perlu memperhatikan hubungan kasih sayang terhadap anaknya. Apabila keluarga tidak melakukan fungsi efektif dengan baik maka anak akan menunjukkan sikap yang tidak mandiri seperti makan minta dibantu, memakai baju, celana, dan sepatu juga minta bantuan orang tua. Dapat dirumuskan pertanyaan penelitian, yaitu “apakah ada hubungan antara fungsi afektif keluarga dengan tingkat kemandirian anak usia prasekolah?”.

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan fungsi afektif keluarga dengan tingkat kemandirian anak usia prasekolah di TK Bina Ana Prasa Jati Sidoarjo.



2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik orang tua pada anak usia prasekolah di TK Bina Ana Prasa Jati Sidoarjo.
b. Mengidentifikasi fungsi afektif keluarga pada anak usia prasekolah di TK Bina Ana Prasa Jati Sidoarjo.
c. Mengidentifikasikan tingkat kemandirian anak usia prasekolah di TK Bina Ana Prasa Jati Sidoarjo.
d. Menganalisis hubungan fungsi afektif keluarga dengan tingkat kemandirian anak usia prasekolah di TK Bina Ana Prasa Jati Sidoarjo.

D. Manfaat Penelitian
1.Bagi Orang tua
Diharapkan orang tua dapat menerapkan fungsi afektif keluarga pada anak berupa hubungan saling mengasihi dan menyayangi antara anggota keluarga. Orang tua mampu mengambil keputusan cara mendidik anak dalam hal memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memakai baju, celana, mandi dan makan sendiri pada usia prasekolah.
2. Bagi Anak
Diharapkan tingkat kemandirian anak usia prasekolah dapat berkembang sesuai dengan tahap kemampuan dan tingkat perkembangan anak, seperti dapat memakai baju, celana, sepatu, dan makan tanpa disuapi oleh orang tua.

3. Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah wawasan penelitian dengan cara membaca dan mempelajari tentang hasil yang terkait dengan tingkat kemandirian anak usia prasekolah dan dapat menjadi referensi acuan pustaka bagi penelitian selanjutnya.

4. Bagi Institusi keperawatan di pelayanan
Dapat meningkatkan peranan perawat UKS untuk bekerja sama dengan pihak sekolah dalam melakukan kegiatan yang bersifat meningkatkan kemandirian anak disekolah, seperti melakukan kegiatan sikat gigi bersama disekolah, membersikan lingkungan sekolah. Asuhan keperawatan keluarga dangan anak usia prasekolah diharapkan perawat komunitas memiliki kemampuan meningkatkan kemandirian anak dirumah dengan cara mengajarkan anak untuk melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri seperti memakai baju dan celana sendiri, makan tanpa disuapin, dan mandi bisa melakukan sendiri. Orang tua diharapkan mendampingi anak dan memandirikan anak dalam melakukan kegiatan sehari-hari dengan tujuan membimmbing anak untuk mandiri dan menberikan bantuan bila anak betul-betul memerlukan bantuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar