Minggu, 30 Januari 2011

bab 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PERKEMBANGAN ANAK USIA PRA SEKOLAH (4-5 tahun).
1. Pengertian Perkembangan Anak Usia Pra Sekolah (4-5 tahun).
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun (Wong, 2000), anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi pertumbuhan dan perkembangannya. Perkembangan adalah perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi psikis dan fisik pada anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam perjalanan waktu yang menuju kedewasaan dari lingkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan menuju dewasa. Perkembangan menandai pematangan dari organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Sertas memperoleh ketrampilan dan kemampuan untuk memikul tanggung jawab dan memperoleh kebebasan mengekspresikan kreatifitas. Kreatifitas anak akan bertambah sesuai dengan tahap tumbuh kembang (Soetjiningsih, 1998).
Sedangkan menurut Hurlock (1978:23) mendefinisikan perkembangan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. “Progresif “ menandai bahwa perubahan terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur. “ Teratur “ dan “koheren “ menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau yang akan mengikuti. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan perkembangan anak usia prasekolah merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh pada anak yang berusia antara 3-6 tahun yang dapat dicapai melalui tumbuh, kematangan, dan belajar.

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Prasekolah (4-5 tahun).
Menurut Soetjiningsih (1998) secara umum terdapat dua faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Berikut ini akan diuraikan kedua faktor tersebut, yaitu:
a. Faktor Intrinsik
Faktor instrinsik merupakan faktor internal dari dalam diri sendiri yang mempengaruhi kegagalan berkembang terutama berkaitan dengan terjadinya penyakit pada anak, yaitu:
1). Kelainan kromosom (misalnya sindroma Down dan sindroma Turner)
2).Kelainan pada sistem endokrin, misalnya kekurangan hormon tiroid, kekurangan hormon pertumbuhan atau kekurangan hormon lainnya
3).Kerusakan otak atau sistem saraf pusat yang bisa menyebabkan kesulitan dalam pemberian makanan pada bayi dan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan
4).Kelainan pada sistem jantung dan pernafasan yang bisa menyebabkan gangguan mekanisme penghantaran oksigen dan zat gizi ke seluruh tubuh
5). Anemia atau penyakit darah lainnya
6). Kelainan pada sistem pencernaan yang bisa menyebabkan malabsorbsi atau hilangnya enzim pencernaan sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi

b. Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik merupakan faktor yang berasal dari lingkungan di luar anak, yaitu:
1).Faktor psikis dan sosial (misalnya tekanan emosional akibat penolakan atau kekerasan dari orang tua).
2).Depresi bisa menyebabkan nafsu makan anak berkurang. Depresi bisa terjadi jika anak tidak mendapatkan rangsangan sosial yang cukup, seperti yang dapat terjadi pada bayi yang diisolasi dalam suatu inkubator atau pada anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya.
3).Faktor ekonomi (dapat mempengaruhi masalah pemberian makanan kepada anak, tempat tinggal dan perilaku orang tua). Keadaan ekonomi yang pas-pasan dapat menyebabkan anak tidak memperoleh gizi yang cukup untuk perkembangan dan pertumbuhannya
4).Faktor lingkungan (termasuk pemaparan oleh infeksi, parasit atau racun).
Lingkungan merupakan faktor yang menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan ini merupakan lingkungan “bio-psiko-fisiko-sosial” yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.

c. Faktor Pendukung
Faktor–faktor pendukung perkembangan anakusia prasekolah antara lain :
1) Terpenuhi kebutuhan gizi pada anak tersebut
2) Peran aktif orang tua.
3) Lingkungan yang merangsang semua aspek perkembangan anak
4) Peran aktif anak
5) Pendidikan orang tua (Soetjiningsih, 1998).

3. Fase Perkembangan Pada Masa Usia Pra Sekolah (4-5 tahun).
Pada masa usia pra sekolah ini dapat diperinci lagi menjadi 2 masa, yaitu masa vital dan masa estetik.
a. Masa Vital
Pada masa ini, individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar, Freud menamakan tahun pertama dalam kehidupan individu ini sebagai masa oral, karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan. Anak memasukkan apa saja yang dijumpai ke dalam mulutnya, tidaklah karena mulut merupakan sumber kenikmatan utama tetapi karena waktu itu mulut merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar (Hurlock, 1999).
Pada tahun kedua telah belajar berjalan, dengan mulai berjalan anak akan mulai belajar menguasai ruang. Mula-mula ruang tempatnya saja, kemudian ruang dekat dan selanjutnya ruang yang jauh. Pada tahun kedua ini umumnya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan (kesehatan). Melalui latihan kebersihan ini, anak belajar mengendalikan impuls-impuls atau dorongan-dorongn yang datang dari dalam dirinya (umpamanya buang air kecil dan air besar) (Hurlock, 1999).

b. Masa Estetik
Pada masa ini dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Kata estetik disini dalam arti bahwa pada masa ini perkembangan anak yang terutama adalah fungsi panca. inderanya. Pada masa ini, panca indera masih peka karena itu Montessori menciptakan bermacam – macam alat permainan untuk melatih panca inderanya (Yusuf, 2001: 69).

4. Tugas Perkembangan Anak Usia Prasekolah (4-5 tahun)
Menurut Havighurst,1961(dalam Yusuf, 2008) mengartikan tugas perkembangan adalah merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal maka akan menyebabkan ketidak bahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya, tugas perkembangan berbeda-beda menurut beberapapara ahli, diantaranya :
a). Menurut Havighurst,1961(dalam Yusuf, 2008) tugas perkembangan anak usia 0 sampai 6 tahun adalah sebagai berikut:
1).Belajar berjalan
2).Belajar memakan makanan padat
3).Belajar berbicara
4).Belajar buang air kecil dan buang air besar
5).Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin
6).Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis
7).Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam
8).Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara / orang lain.
9).Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk (mengembangkan kata hati).

b). Menurut Hurlock (1999) tugas-tugas perkembangan anak usia 4 - 5 tahun adalah sebagai berikut:
1).Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan yang umum
2).Membangun sikap yang sehat mengenal diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh
3).Belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya
4).Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
5).Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung
6).Mengembangkan penngertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
7).Mengembangkan hati nurani, pengertian moral dan tingkatan nilai
8).Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga
9).Mencapai kebebasan pribadi

c). Menurut Suherman (2000) menjelaskan secara ringkas tugas-tugas perkembangan anak usia 4 - 5 tahun sebagai berikut:
1). Berdiri dengan satu kaki (gerakan kasar)
2). Dapat mengancingkan baju (gerakan halus)
3). Dapat bercerita sederhana(bahasa bicara dan kecerdasan)
4). Dapat mencuci tangan sendiri (bergaul dan mandiri)

5. Stimulasi Perkembangan Anak Usia 4-5 Tahun
Menurut Suherman (2000) stimulasi yang diperlukan anak usia 4-5 tahun adalah :
a). Gerakan kasar, dilakukan dengan memberi kesempatan anak melakukan permainan yang melakukan ketangkasan dan kelincahan.
b).Gerakan halus, dirangsang misalnya dengan membantu anak belajar menggambar.
c).Bicara bahasa dan kecerdasan, misalnya dengan membantu anak mengerti satu separuh dengan cara membagikan kue.
d).Bergaul dan mandiri, dengan melatih anak untuk mandiri, misalnya bermain ke tetangga

B. FUNGSI KELUARGA
Friedman (1986) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, sebagai berikut :
1. Fungsi afektif
Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang berkaitan dengan kasih sayang dan berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psiko sosial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif.
Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah :
a. Saling mengasuh : cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain. Maka, kemampuan untuk memberikan kasih sayang akan meningkat, yang pada akhirnya tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam keluarga merupakan modal besar dalam memberikan hubungan dengan orang lain diluar keluarga atau masyarakat
b. Saling menghargai: Bila anggota saling menghargai dan mengakui keberadaan dan setiap hak anggota keluarga serta selalu mempertahankan iklim yang positif, maka fungsi afektif akan tercapai.
c. Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan sepakat memulai hidup baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi yang positif sehingga anakanak dapat meniru tingkah laku yang positif dari kedua orang tuanya.
Fungsi afektif merupakan “sumber energi“ yang menentukan kebahagiaan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga, timbul karena fungsi afektif di dalam keluarga tidak dapat terpenuhi.
2.. Fungsi sosialisasi.
Sosialisasi adalah proses pengembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang menghasilkan interaksi social. Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu, dan orang – orang yang disekitarnya. Kemudian beranjak balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai dalam interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma norma, budaya, dan prilaku melalui hubungan dan interaksi keluarga.
3. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan. Dalam hal ini keluarga juga berfungsi untuk memelihara dan membesarkan anak.
4. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan yang tidak seimbang antara suami dan istri hal ini menjadikan permasalahan yang berujung pada perceraian.
5. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan, dan atu merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyeleseikan masalah kesehatan.

C. Konsep Kemandirian Anak
1. Pengertian kemandirian
Kemandirian adalah kemanpuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya (Lie, 2004). Dan pengertian lain dari kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara komulatif selama perkembangan dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi lingkungan, sehingga indivudu mampu berfikir dan bertindak. Dengan kemandirian seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk berkembang yang lebih baik (Mu'tadin, 2002).
Kemandirian seperti halnya psikologis yang lain, dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan untuk berkembang melalui latihan yang dilakukan sejak dini, latihan tersebut dapat berupa pemberiat tugas tanpa bantuan. Kemandirian akan memberi dampak positif bagi perkembangan anak, maka sebaiknya kemandirian diajarkan pada anak sedini mungkin sesuai kemampuan anak. Seperti telah diakui segala sesuatu yang dapat diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan semakin berkembang menuju kesempurnaan (Mu'tadin, 2002).
Kemandirian seorang anak diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara anak dengan teman sebaya. Hurlock (1991) mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, anak belajar berfikir secara mandiri, menganbil keputusan sendiri. Dalam mencapai keinginan untuk mandiri seringkali anak mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan oleh masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung kepada orang lain (Mu'tadin, 2002).

2.Ciri-Ciri Sikap Mandiri
Menurut skala WeeFIM (2002) anak dikatakan mandiri apabila dapat melakukan 18 kriteria tanpa bantuan orang lain, diantaranga:
a). memindahkan kursi
b). berjalan
c). mengerti penggunaan toilet
d). naik turun tangga
e). Mengekspresi sesuatu
f). interaksi sosial
g). belajar menggunakan alat-alat mandi
h). makan
i). mandi
j). berlatih buang air besar
k). memakai celana
l). paham bila disuruh
m).memakai baju
n).belajar buang air kecil
o). merawat diri
p). memori atau daya ingat terhadap sesuatu
q). mampu mengatatasi masalah
r). belajar menggunakan toilet
Penilaian 18 tingkat kemandirian anak oleh WeeFIM (2002) ditetapkan dengan rentang nilai 1-7. Apabila 18 keterampilan kemandirian anak mampu dilakukan oleh anak sebagian besar pada rentang nilai 6-7 maka anak dikatakan mandiri. Anak dikatakan tidak mandiri apabila dari 18 kemampuan kemandirian anak sebagian besar berada pada rentang 1-5.

3.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi kemandirian
Faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemandirian anak usia prasekolah menurut Soetjiningsih (1995) terbagi menjadi dua faktor, meliputi internal dan eksternal.
a. Faktor internal merupakan faktor yang ada pada diri mereka sendiri, meliputi emosi dan intelektual
1).Faktor emosi yang ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak terganggunya kebutuhan emosi anak.
2).Faktor intelaktual yang ditunjukan dengan kemampuan untuk menghadapi masalah anak.
b. Faktor eksternal yaitu faktor yang datang atau ada dari luar anak itu sendiri, yang meliputi:
1).Lingkungan merupakan faktor yang menetukan tercapai atau tudaknya kemandirian anak usia prasekolah. Pada usia ini anak membutuhkan kebebasan untuk bergerak kesana-kemari dan mempelajari lingkungan (Soetjiningsih, 1995). Dengan diberi kesempatan dan didorong melakukan semuanya dengan bebas maka lingkungan yang penuh rangsangan ini akan membantu anak untuk mengembangankan rasa percaya dirinya (Subrata, 1997).
2).Karakteristik sosial dapat mempengaruhi kemandirian anak, misalnya tingkat kemandirian dari keluarga miskin berbeda dengan tingkat kemandirian anak dari keluarga kaya (Soetjiningsih, 1995).
3).Stimulus, anak yang mendapat stimulus terarah dan teratur akan lebih cepat mandiri dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan stimulus (Soetjiningsih, 1995).
4).Pola asuh, anak dapat mandiri dengan diberi kesempatan, dukungan, dan peran dari orang tua sebagai pengasuh (Soetjiningsih, 1995).
5).Cinta dan kasih sayang kepada anak hendaknya diberikan secara wajar karena jika diberikan berlebihan, anak akan menjadi kurang mandiri (Soetjiningsih, 1995).



4. Bentuk kemandirian yang perlu dikuasai anak usia prasekolah
Bentuk kemandirian yang perlu dikuasai oleh anak usia prasekolah menurut (Kusuma,2008) meliputi:
a. USIA 3-4 TAHUN
1). Sikat gigi sendiri meski belum sempurna.
2). Buka-pakai baju kaus dan celana berkaret.
3). Memakai sepatu berperekat.
4). Mandi sendiri dengan arahan.
5). Buang air kecil di toilet.
6). Mencuci tangan tanpa dibantu
7). Menuang air tanpa tumpah dan minum sendiri dari gelas tanpa gagang maupun cangkir bergagang.
8). Membereskan mainan usai bermain.

b. USIA 4-5 TAHUN
1). Menggunakan pisau untuk memotong makanan.
2). Buka-pakai baju berkan-cing depan.
3). Buka-tutup celana beresleting.
4). Menalikan sepatu.
5). Mandi sendiri tanpa arahan.
6). Cebok sehabis buang air kecil/besar.
7). Menyisir rambut

5. Melatih anak agar mandiri
Menurut Tampubolon (2010) cara melatih agar anak bisa mandiri meliputi :
a. Ciptakan suasana rumah yang aman untuk berpetualang dan eksplorasi. Untuk meningkatkan kemandirian anak, dia harus diberikan kesempatan seluasnya dalam mengeksplorasi hal-hal baru.
b. Jadilah pemandu bagi anak. Pandulah saat anak belajar melakukan sesuatu hal baru. Berikan contoh terlebih dahulu, baru kemudian beri kesempatan bagi anak untuk melakukannya sendiri. Misalnya, belajar membereskan meja makan, tunjukkan cara mengambil piring dan membawanya ke tempat cucian, baru kemudian gelas, dan seterusnya.
c.Tahan keinginan untuk selalu ikut campur. Memang wajar apabila Anda rasanya selalu ingin membantu anak, teruatama bila ia mengalami kesulitan. Akan tetapi Anda perlu menahan sedikit keinginan tersebut, sebab banyak hal juga dapat dipelajari dari kesalahan atau kegagalan. Tentunya Anda tetap dapat dan harus turun tangan jika ada hal yang membahayakan bagi anak. Dia pun bisa jadi merasa tertekan bila terus menerus melakukan kesalahan, untuk itu Anda harus bijak menilai situasi saat Anda sebaiknya menempati posisi penonton, motivator, atau penolong bagi anak.
d. Ijinkan anak untuk ikut campur. Saat Anda melakukan hal-hal yang menarik, seperti memasak, membersihkan atau merapikan meja, anak mungkin akan tertarik untuk ikut. Berikan kesempatan bagi anak untuk ikut terlibat dalam aktivitas untuk kepentingan keluarga. Cari tugas yang cukup mudah yang kira-kira bisa ia kerjakan, serta bersabar dalam mengarahkan.
e. Latihan untuk meninggalkan anak. Salah satu masalah umum dalam hal kemandirian anak ialah kesulitan untuk meninggalkan anak.
f. Hindari perintah dan ultimatum. Perintah keras dan ultimatum membuat anak selalu merasa berada di bawah orangtua dan tidak mempunyai otoritas pribadi. Disiplin dan rasa hormat tetap bisa dilatih tanpa Anda menjadi galak pada anak. Mengarahkan, mengajar serta berdiskusi dengan anak akan lebih efektif daripada memerintah, apalagi bila perintah tidak didasari dengan alasan yang jelas. Lama kelamaan anak akan bergantung pada perintah atau larangan Anda dalam melakukan segala sesuatu.
g. Senantiasa tunjukkan cinta Anda padanya. Katakan dan tunjukkan kasih sayang Anda serta dukungan pada balita secara konsisten, hal ini akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Dengan demikian dia akan lebih yakin pada dirinya, serta tidak ragu untuk mencoba hal-hal yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar